Sabtu, 12 Maret 2016

SOCIAL

BAB 1 

Hari ini hari yang indah, sinar mentari yang menerobos masuk ke kamar menimbulkan kesan hangat yang menyambut pagiku. Aku mengerjabkan mata, berusaha untuk membukanya lebih lebar. Ku renggangkan tubuhku yang terasa lelah. Kemarin aku tidur kira kira pukul 1 dini hari, aku sibuk membaca novel yang baru saja aku beli. Aku mengusap wajahku yang masih memberontak ingin kembali dibaringkan dan kembali ke alam mimpi. Seakan memberitahu bahwa badanku belum selesai diperbaiki. Tapi harus kupaksa untuk bangkit dari tempat tidurku. Hari ini pertama kalinya aku sekolah di sekolah menengah atas (SMA).

Biar aku ceritakan sembari melakukan rutinitas pagi sebelum ke sekolah. Hari ini aku akan sekolah di sekolah Haselyn. Sekolah swasta itu bisa dibilang bergengsi, tapi ngga terlalu terkenal juga- Tapi terkenal kok, tapi ngga terlalu juga sih. Susah dijelaskan. Di sekolah itu, aku akan belajar di kelas sosial, secara otomatis aku akan menyandang gelar 'anak IPS'. Jurusan yang diaanggap remeh oleh kalangan anak IPA. Mungkin karena mereka pikir, anak IPS kerjanya cuma main main. Boleh aku akui, itu benar. Tapi ngga gitu juga, pasti ada sisi seriusnya. Bisa kita buktikan nanti.

Sebenarnya, aku masuk ke jurusan IPS lebih tepatnya karena terpaksa. Ngga terpaksa juga sih- duh aku labil banget belakangan ini. Ya, yang merasa terpaksa adalah kedua orangtuaku. Mereka ingin aku masuk jurusan IPA. Tapi aku pada akhirnya disuruh masuk ke jurusan bisnis saat kuliah. Maksud mereka apa- Aku juga seharusnya bisa bebas memilih jurusan yang aku mau, tapi salahkan kakak tertuaku. Bang Joni, dia kabur dari rumah sejak- kira kira 2 tahun yang lalu. Dan sekarang ayahku masih tidak bisa menemukannya. Padahal ia sudah menyebarkan berita orang hilang, menggunakan jasa detektif dan hal hal yang lebih ektrim lainnya. Ibuku, bukan pasrah sih. Dia jadi stress sejak kepergian kakakku. Ntah ada angin apa yang menyebabkan kakak sekaligus anak laki laki satu satunya pergi meninggalkan rumah, tanpa surat yang biasanya ditinggalkan orang orang dibalik layar kaca jika ingin kabur dari rumah. Sedangkan aku, aku masih menikmati hidup tanpa kehadiran John Oliver NIsan a.k.a Bang Joni. Aku bukannya tidak khawatir, tapi aku maklum karna dia sebenarnya ingin jadi pilot tapi dipaksa jadi penerus perusahaan papa. Kabur deh-

Kalo boleh jujur, aku ngga terlalu suka nama pemberian orangtuaku. Tuh, bisa kalian liat kan' nama panjang-nya Bang Joni? Nama panjangku saja, Aries Oriel a.k.a. Ao. Tapi setidaknya namaku masih lebih masuk akal daripada nama panjangnya Bang Joni. Lalu, nama panggilan aku ke Bang Joni. Biasanya kebanyakan adek adek highclass kayak aku -mungkin- memanggil Bang Joni dengan sebutan 'Kakak' lalu memanggilnya dengan panggilan 'Kak John'. Karena ibuku selalu memanggil Bang Joni dengan sebutan 'John'. Tapi aku sudah terbiasa memanggil dia dengan sebutan itu. Jada ibuku mengalah, membiarkanku memanggil kakakku dengan sebutan itu.

Sejak kepergian kakakku, kadang ibuku suka ngelantur menyalahkanku jika alasan Bang Joni pergi adalah karna aku ngga bisa berhenti memanggil kakakku dengan sebutan 'Bang Joni'. Seperti biasa, sehabis itu ayahku akan menyempatkan dirinya untuk tertawa, sesibuk apapun dia jika ia mendengar lanturan istrinya. Lalu aku hanya bisa menunjukkan cengiran kudaku. Dan sejak kepergiannya juga, aku yang harus menggantikan posisinya untuk meneruskan perusahaan papa.

Lalu apa hubungannya dengan masuk kelas IPA. Seharusnya mereka senang aku masuk kelas IPS, bisa saja aku tertarik menjadi ahli gizi, dokter atau professor jika aku masuk ke jurusan IPA. Lalu kabur seperti Bang Joni jika tidak dikabulkan. Kekanakan emang, Bang Joni kan' berani beda. Dia benar benar keras kepala.

Kembali ke masalahku, saat aku sudah ditetapkan masuk ke jurusan IPS. Orangtuaku langsung pergi ke SMA Haselyn, dengan memaksaku untuk ikut tentunya. Nemku tidak cukup besar untuk masuk ke kelas IPA, jadi aku dimasukkan ke kelas IPS. Salahku juga sih, memilih untuk movie marathon sehari sebelum ujian nasional. Salahkan temanku yang membuatku penasaran dengan film film yang ia sarankan padaku. Jadi intinya salahkan Abby.

Abby itu adalah teman masa kecilku, sekaligus tetanggaku. Kita orangnya sedikit melankolis, lebay, alay, sedikit freak, dan suka sesuatu yang berbau Korea, Jepang dan Western. Ngga terlalu freak dan lebay sih sampai punya semua koleksi CD, poster, photoalbum, merch, dan tetek bengek lainnya. Kita hanya sekedar 'suka' jadi kita cocok. Tapi setidaknya kita pernah menghadiri konser SM tour (SM concert) dan konser beberapa artis western bersama. Aku ngga terlalu suka J-pop, jangan salahkan aku untuk kerasisan ini. Selera tiap orang berbeda, tapi aku sedikit menyukai Egoist, perfume- mungkin karena pemikiranku tentang J-Pop cetek.

Kau harus tahu apa yang dilakukan kedua orangtuaku sesampainya di SMA Haselyn, ayahku langsung menajamkan matanya seakan menakutkan seseorang yang mengaku kepala sekolah. Kata kata ayahku tentang ancaman jika aku tidak dimasukkan ke jurusan IPA terngiang ngiang kepalaku. Apalagi saat ''Bapak akan tau akibatnya''. Itu kekanakan banget- Aku tahu dari mana sifat Bang Joni menurun. Karena itu, ayahku diusir security. Aku hanya berdiri disebelah ibuku sembari menahan tawa. Aku tahu, ayahku tidak serius dengan perkataannya, dia juga termasuk orang yang ngga mau ribet. Jadi aku bohong jika sifat keras kepala menurun dari ayahku, sebenarnya menurun dari ibuku. Ibuku dengan gaya anggunnya, ia segera meminta maaf lalu melangkahkan kaki keluar ruangan. Ketika aku mengikuti langkahnya, aku menyempatkan melihat kebelakang, melihat kepala sekolah yang bergumam tidak jelas dengan raut wajah memuji.

Dia belum tahu sifat asli ibuku, setelah tahu semua. Mungkin dia akan jantungan. Sifat keras kepala, manja, ngga mau ngalah, selalu menganggap dirinya benar, sok imut dan keahliannya untuk berakting perlu diancungi jempol. Ibuku memang bukan aktris, tapi pernah ditawari dan ditolak mentah mentah dengan alasan 'Takut kelelahan'. Padahal kerjanya dirumah cuma bermanja dengan ayah, melakukan kewajibannya sbg. seorang ibu dan istri (ya paling cuma menyambut, membantu merapikan pakaian ayah sebelum kerja, dan meneriaki anak anaknya untuk makan), melakukan kewajibannya berhadapan dengan tuhannya, mengurusi dirinya sendiri dan mengajak rusuh dengan anak anaknya.

Aku tidak bisa melupakan hobi baru ibuku yang muncul tiba tiba di tengah malam dengan masker bewarna putih yang menempel diwajahnya. Ia biasanya akan berbaring disebelahku, dan sengaja menyetel alarm sekitar jam 12-1 dini hari dan meletakkannya di antara kami. Jadi ketika aku terbangun dan melihat kesamping, Ibuku akan tersenyum lebar dengan matanya yang melotot. Menakutiku. Orang kuat mana yang ngga tahan untuk tidak teriak jika dibegitukan, setidaknya kaget sampai jatuh ke bawah ranjang dan berguling guling. Oke aku lebay. Tapi aku pernah sampe guling guling kayak gitu dan baru berhenti saat jidatku terpentok tembok. Yang dilakukan Ibuku adalah, menertawakan aku.

Lalu, saat ia memasak. Ia lebih sering memasakkan masakan yang ngga aku dan Bang Joni suka. Makanan yang penuh dengan sayur- Aku masih bersyukur jika masih ada kentang, jagung dan wortel. Tapi kenyataannya Ibuku akan memasukkan sayuran hijau seperti sawi, kangkung dan sayur lainnya. Yang tentunya pahit. Ia hanya memasukkan daging yang sudah ia cincang, itupun sedikit. Banget. Aku merasa seperti kambing atau hewan herbivor lainnya yang hanya makan daun- tapi kadang aku nemu daging kok. Karena itu, aku biasanya akan lebih dulu memaksa mbak Ria buat memasak lebih dulu sebelum Ibu tiba di dapur.

Aku masih manusia normal, butuh asupan lain selain daun. Aku sedih.

Udah tau kan' kalau ibuku itu nyebelin? Aku ngga tau kenapa aku masih bertahan dirumah, aku pernah nyeritain ini ke temanku, Sisi. Dan dia bilang, dia bakal kabur dari rumah kayak Bang Joni jika ia tetap dipaksa memakan daun setiap hari dan merasa dihantui tiap malam.

Tapi tadi malam, ibuku gagal membuatku takut karena aku belum tidur hingga pukul 1 dini hari. Jadi ia hanya terpaku di ambang pintu dengan wajah serba putih lalu ia menceramahiku panjang lebar. Hingga aku terbawa ke alam mimpi.

Seperti yang pernah aku bilang, ibuku jago dalam berakting. Dan ia mendapatkan bakatnya saat dia menonton film layar lebar atau hanya sekedar menonton ftv dan sinetron di televisi. Miris sih, tapi hebat juga bisa menguasai akting yang begitu bagus dan seperti sungguhan itu. Pantas saja ia jago menyembunyikan perasaannya, dibalik senyum jahilnya. Aku tahu ia merindukan Bang Joni. Ia biasanya meratapi pintu kamar Bang Joni sebelum pergi ke kamarnya yang kebetulan berdekatan dengan kamar Bang Joni dan aku.

Waktu itu, setelah kami keluar dari ruangan kepala sekolah. Ibuku memandang lurus kedepan. Aku khawatir jika ia nekat menggunakan bakat aktingnya untuk memperdaya atau memohon pada calon anak jurusan IPA di SMA Haselyn untuk menukar posisinya demi aku. Dia bisa nekat melakukan apapun selama ia punya kartu kredit unlimit di dompetnya. Ibuku berpenampilan lebih sederhana jika dibandingkan kaum sosialita lainnya. Koleksi baju, perhiasan, dompet, sepatu, dan pernak pernik lainnya tidak banyak. Dan itu adalah nilai plus buat ibuku, tidak boros. Sekalinya boros, dia pasti melakukan sesuatu yang berguna untuk orang disekelilingnya, terutama keluarganya. 

Aku memandangi wajah Ibuku dengan seksama, mungkin karena aku melihat wajahnya terang terangan. Ibuku langsung memalingkan wajahnya dan wajahnya sekarang melihatku juga. Ia memicingkan matanya ke kedua mataku. ''Kamu merhatiin keriput Mama ya?''  tuduhnya.

Aku melihatnya tidak percaya. ''Tidak, Mama ge-er,'' balasku sembari mengibas ngibaskan tangan. Setelah itu kepalaku dijitak. Reflek, aku langsung memegangi kepalaku dibagian yang hangat. ''Aku tidak bersalah'' lirihku lebay.

Ibuku langsung menunjukkan mimik jijik yang didramatisir. Dan ia bertampang seperti itu sampai kami menginjakkan kaki di area parkiran. Aku bersyukur ibuku tidak melakukan aksi nekat. Ya seperti yang pernah aku bilang-

Tanpa basa basi, kami langsung berlarian berlomba menuju mobil. Ah, satu lagi kelakuan kekanakan kami. Kami suka berlomba untuk duduk didepan jika ayahku yang menyetir.

Pasti kalian bertanya tanya- atau tidak sama sekali

Hayati terluka #ga

Dulu, kami malah berebutan untuk duduk dibelakang. Tentunya ayahku merasa dirinya seperti supir, lah keluarganya semuanya lebih memilih dibelakang, bang John, aku, dan ibuku. Alasan pertama yang dipilih kenapa kami lebih memilih duduk dibelakang adalah, kami bisa bebas selonjoran di mobil. Kalau didepan kan' dilihatin dan itu akan merusak harga diriku /hiks.

Setelah itu, ayahku memberikan salah satu dari kami kesempatan untuk diantar kemanapun ia mau jika salah satu dari kami duduk didepan.

Sekarang saatnya aku untuk menang, WOOHOOO. Aku berhasil menduduki kursi disebelah ayahku. Ibuku langsung merengut dan pasrah menduduki kursi belakang dengan tangan bersila didepan dada. Ketika aku melihat kesebelah kananku, aku sudah melihat ayahku yang sedang duduk manis. Tunggu, sejak kapan dia ada disitu?

''Yak, Ao. Kamu mau kemana?'' sahutnya dengan nada gembira. ''Kedai es krim kah? Boneka? Kali ini Papa akan berikan apapun yang kamu mau asal kamu ngga sedih lagi, Papa tau kamu lagi berduka gara gara masuk IPS. Padahal kamu sudah berusaha,'' ia mengelap air mata yang sudah ada diujung pelupuk dengan sapu tangan bewarna pink. Dia, ayahku menangis. Mungkin dia sudah terjangkit virus lebay milik ibuku. Wajar sih-

Aku menggelengkan kepalaku tanda tidak setuju, ''segitu mengerikankah jadi anak IPS??''. Jelas aku tidak terima, karena aku sudah resmi jadi anak IPS tentu pernyataan itu seperti sudah menohok hatiku yang rapuh ini /ga.

-Cerita ini terlalu lebay, Author lelah dan ngga tahan akan kelebay-an ini-




Tidak ada komentar:

Posting Komentar